BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Metode Keseimbangan Kerja (Line Balance)
Beberapa pendapat mengemukakan pembatasan dalam memberikan pengertian mengenai line balancing ini, menurut Elwoos S. Buffa: Bahwa keseimbangan merupakan persoalan pokok dimana perencanaan hasil produksi yang continous maupun yang bersifat assembly. Selain itu dapat dinyatakan pula bahwa, di dalam perencanaan produksi harus diefisienkan pemakaiannya sehingga tidak ada mesin yang menganggur. Dengan kata lain ”Balance Machine Load” atau keseimbangan pemakaian mesin dapat dicapai agar terhindar adanya pengangguran. Di dalam perencanaan produksi baik perusahaan itu telah didirikan maupun sebelum didirikan, perlu sekali dalam pembuatan rencana memperhatikan kemungkinan tercapainya tingkat keseimbangan dan faktor-faktor yang sering mempengaruhi di dalam pabrik, seperti perencanaan pembuatan layout, material handling, penempatan mesin dan kapasitas tiap mesin, tenaga kerja dan metode produksinya, agar semuanya bisa saling tunjang-menunjang untuk tercapainya tingkat keseimbangan. Untuk mewujudkan line balancing pada suatu perusahaan maka faktor-faktor yang mempengaruhi yang mengakibatkan timbulnya kemacetan harus dicegah sedemikian rupa sehingga hasil tiap bagian dalam proses produksi bisa berjalan dengan lancar dalam waktu yang telah ditentukan. Faktor-faktor tersebut antara lain:
· Terlambatnya bahan baku
· Material handling yang kurang sempurna
· Terjadinya kerusakan mesin
· Bertumpuknya barang dalam proses pada tingkat proses tertentu
· Kondisi mesin yang sudah tua
· Kelemahan dalam merencanakan kapasitas mesin
· Layout yang kurang baik
· Kualitas tenaga kerja yang kurang baik
· Adanya working condition yang kurang baik
2.3 Waktu Siklus
Waktu siklus adalah waktu yang diperlukan untuk membuat suatu produk dalam suatu lintasan produksi. Waktu siklus harus sama atau lebih besar dari waktu operasi terbesar, dan waktu siklus harus sama atau lebih kecil dari jam kerja efektif per hari dibagi jumlah produksi per harinya.
2.4 Stasiun Kerja
Stasiun kerja adalah sebuah lokasi pada lintasan produksi dimana satu atau beberapa elemen kerja dilaksanakan untuk membuat produksi tersebut. Pengelompokan elemen-elemen kerja ke dalam stasiun-stasiun kerja tersebut diusahakan agar mempunyai waktu operasi yang sama. Tujuan pengelompokan ke dalam stasiun kerja adalah untuk mendapatkan balance delay yang rendah. balance delay merupakan ukuran ketidakseimbangan suatu lintasan produksi.
2.5 Balance Delay
Balance delay atau sering disebut balancing loss. Adalah perhitungan ketidak efisienan yang disebabkan karena ketidaksempurnaan alokasi kerja diantara stasiun kerja.
2.6 Efisiensi Lintasan
Efisiensi lintasan produksi merupakan tingkat koefisiensian dari lintasan produksi, dan dinyatakan dalam prosentase. Dengan hasil efesiensi yang tinggi, maka dapat dikatakan bahwa lintasan produksinya sudah baik.
2.7 Keseimbangan lintasan produksi
Pada awalnya keseimbangan lini dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi produksi massal dari produk yang terstandarisasi, yang di desain untuk memanfaatkan spesialisasi buruh dan halhal lain yang berhubungan (Shtub and DarEl, 1989, Scholl, 1999, hal 2). Dengan berkembangnya teknologi terutama pada bidang otomotif dan adanya permintaan produk yang semakin meningkat, terjadi perubahan sistem produksi yang ada secara signifikan sehingga menimbulkan berbagai macam masalah pada lini produksi. Menurut Biegel (1992), dua masalah yang sering dihadapi oleh lintasan produksi adalah : 1) adanya kendala sistem, yang erat kaitannya dengan perawatan (maintanance), dan 2) menyeimbangkan beban kerja pada beberapa stasiun kerja (work station) untuk mencapai suatu efisiensi yang tinggi dan memenuhi produksi yang telah direncananakan. Adanya ketidakseimbangan lintasan produksi ditunjukkan oleh : 1) adanya stasiun kerja yang sibuk dan idle secara mencolok, dan 2) adanya work in process pada beberapa stasiun kerja. Beberapa hal yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan pada lintasan produksi antara lain : 1. Rancangan lintasan yang salah 2. Peralatan atau mesin yang sudah tua sehingga seringkali breakdown dan perlu setup ulang 3. Operator kurang terampil. 4. Metode kerja yang kurang baik Adapun rancangan lintasan produksi yang seimbang bertujuan untuk: 1) menyeimbangkan beban kerja yangdialokasi pada setiap stasiun kerja sehingga pekerjaan dapat selesai dalam waktu yang seimbang dan mencegah terjadinya bottleneck dan 2) menjaga lini perakitan agar tetap berlangsung secara lancar dan kontinyu (Elsayed, 1985).
2.8 Terminologi Keseimbangan Lini (Line Balancing)
Beberapa terminologi yang berkaitan dengan keseimbangan lini adalah :
1. Elemen Kerja (Work Element) Bagian dari keseluruhan pekerjaan dalam proses assembly. Umumnya N didefinisikan sebagai jumlah total dari elemen kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu assembly dan i adalah elemen kerja.
2. Stasiun Kerja (Workstation/WS) Lokasi pada lini assembly atau pembuatan suatu produk dimana pekerjaan diselesaikan secara manual maupun otomatis. Jumlah minimum dari stasiun kerja adalah K, dimana K<i
3. Elemen Kerja Terkecil (Minimum Rational Work Element) Untuk menyeimbangkan pekerjaan dalam setiap stasiun yang ada maka pekerjaan tersebut harus dipecah menjadi elemenelemen pekerjaan. Elemen kerja minimum adalah elemen pekerjaan terkecil dari suatu pekerjaan yang tidak dapat dibagi lagi. 4. Total Waktu Pengerjaan (Total Work Content) Jumlah dari seluruh waktu pengerjaan setiap elemen pekerjaan dari suatu lini. 5. Waktu Proses Stasiun Kerja (Workstation Process Time) a. Elemen pekerjaan yang diselesaikan dalam satu stasiun kerja (work station) dapat terdiri dari satu elemen pekerjaan atau lebih. b. Waktu proses dalam stasiun kerja merupakan penjumlahan dari seluruh waktu pengerjaan setiap elemen kerja yang berada di dalam stasiun kerja tersebut
2.7 Metode Bobot Posisi (Rangked Positional Weight Method)
Metode Bobot Posisi (Rangked Positional Weight Method) merupakan heuristik yang paling awal dikembangkan. Metode ini dikembangkan oleh W.B. Helgeson dan D.P. Birnie1 . Metode ini merupakan pendekatan untuk dapat memecahkan masalah pada keseimbangan lini perakitan dan menemukan solusi secara cepat. Pendekatan ini menugaskan operasi ke dalam stasiun-stasiun kerja dengan dasar panjang waktu operasi. Proses kerja diurutkan berdasarkan peringkat, mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Nilai peringkat didapat dari jumlah waktu operasi mulai dari awal sampai akhir proses.
BAB III
REVIEW TIGA JURNAL
3.1 Review Jurnal Pertama
· Pada jurnal pertama membahas tentang metode keseimbangan kerja dimana metode ini digunakan untuk mengetahui bahwa keseimbangan merupakan persoalan pokok dimana perencanaan hasil produksi yang continous maupun yang bersifat assembly. Selain itu pula dalam proses perencanaan produksi harus mengefisienkann waktu yang digunakan agar mesin yang digunakan saat proses produksi tidak mengganggur.
· Waktu siklus dimana saat ingin membuat suatu produk digunakan waktu siklus sebagai suatu lindasan dalam pembuatan produk
· Stasiun kerja yaitu sebuah lokasi pada lintasan produksi dimana satu atau beberapa elemen kerja dilaksanakan ditempat inu untuk membuat produksi tersebut.
· Balance delay yaitu suatu kesalahan dalam lini produk yang menyebabkan ketidak efisiennya
· Efisiensi lintasan yaitu bagaimana saat membuat produk, produk itu dibuat seefisien mngkin agar lintasan produk menjadi lebih baik
3.2 Review Jurnal Kedua
· Pada jurnal kedua membahas tentang keseimbangan lintasan produk dimana saat ingin membuat suatu produk, efisiensi waktu yang digunakan harus maksimal. Namun adapun beberapa kendala seperti perawatan sistem, menyeimbangkan antar stasiun kerja yaitu untuk mencapai suatu efisiensi untuk memenuhi kebutuhan saat membuat suatu produk.
· Pada jurnal ini jga membahas tentang beberapa terminologi dimana terminologi ini terdiri dari beberapa macam lini yaitu Elemen Kerja (Work Element), Stasiun Kerja (Workstation/WS), Elemen Kerja Terkecil (Minimum Rational Work Element), Total Waktu Pengerjaan (Total Work Content) dan Workstation Process Time).
3.3 Review Jurnal Ketiga
Pada jurnal ini membahas tentang metode bobot posisi. Metode ini merupakan pendekatan untuk dapat memecahkan masalah pada keseimbangan lini perakitan dan menemukan solusi secara cepat. Pendekatan ini menugaskan operasi ke dalam stasiun-stasiun kerja dengan dasar panjang waktu operasi. Proses kerja diurutkan berdasarkan peringkat, mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Nilai peringkat didapat dari jumlah waktu operasi mulai dari awal sampai akhir proses
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari analisis hasil , maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Dengan menggunakan metode keseimbangan lintasan melalui metode bobot posisi diperoleh bahwa stasiun kerja yang lebih efektif, yaitu adalah dengan pengurangi jumlah stasiun kerja menjadi 3 stasiun kerja. Hal ini akan mengakibatkan proses Koordinasi antar stasiun kerja lebih efektif, Tingkat produksi akan lebih meningkat, dan tingkat perpindahan material lebih cepat terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
· http://jurnal.itats.ac.id/wp-content/uploads/2013/06/Minimalisasi-Bottleneck-Proses_61.pdf
· http://blog.trisakti.ac.id/jurnalti/files/2012/10/3_Analisa-Keseimbangan-Lini_Lina-Gozali-dkk.pdf
· http://portal.kopertis3.or.id/bitstream/123456789/1456/1/Jurnal%20Line%20Balancing.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar